Feeds:
Posts
Comments
EEE 2009
Electrical Engineering Event merupakan acara berskala nasional yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Elektroteknik (HME) Institut Teknologi Bandung sebagai wadah pendorong mahasiswa Indonesia untuk berpartisipasi dalam penciptaan suatu karya dan teknologi di bidang elektroteknik.

Rangkaian acara ini terdiri dari tiga kegiatan besar, yaitu Seminar, Electrical Engineering Awards 2009, dan Expo. Tema umum yang diangkat untuk Electrical Engineering Events 2009 ini adalah “Teknologi Elektroteknik Untuk Kemajuan Bangsa”.

1. Seminar “Perkembangan dan Masa Depan Teknologi di Indonesia.”
Harga tiket masuk Rp 25.000
Hari, tanggal : Sabtu, 12 Desember 2009
Waktu : 08.30 – 12.00 WIB (untuk sesi I)
13.00 – 17.00 WIB (untuk sesi II)
Tempat : Aula Barat ITB

Pembicara : Sesi I
Bapak Djoko Santoso : Rektor ITB
Bapak Marzan Aziz Iskandar : Kepala BPPT
Bapak Atmadji Soewito: CEO PT. Infrakcom Telesarana
Moderator :
Bapak Armein Z.R. Langi

Sesi II
Bapak Djoko Winarno : Wakil Ketua Umum I – Bidang Bisnis METI
Bapak Rinaldi Firmansyah : Direktur Utama PT. Telekomunikasi Indonesia
Ibu Tati Latifah Erawati Rajab Mengko : Profesor Biomedika ITB
Moderator :
Bapak Tutun Juhana

2. Electrical Engineering Expo : Pameran Karya Mahasiswa dan Industri
Elektroteknik.
Rabu, 16 Desember 2009 – Kamis, 17 Desember 2009
• Himpunan Mahasiswa Elektroteknik ITB
• Lab-lab yang berada di bawah Program Studi Teknik Elektro
• Finalis EEA 2009
• Peserta EEA 2009 non-finalis yang lolos seleksi
• Finalis EEA 2007 yang lolos seleksi
• Universitas/ Institut undangan
• Pengusaha mandiri di bidang elektro (electropreneur)
• Perusahaan-perusaha an, baik skala kecil maupun besar yang bergerak di bidang elektroteknik
• Kumpulan Tugas Akhir terbaik ITB yang berhubungan dengan bidang elektroteknik
• Kementerian Negara Riset dan Teknologi

3. Electrical Engineering Awards 2009 : Lomba Cipta Karya Elektroteknik Skala Nasional.

Kategori :
Renewable Energi and Optimization
Communication
Electronics Entertainment for Cultural Development

Juri :
Renewable Energi and Optimization
Bapak Pekik Argo Dahono : Dosen Elektro ITB, Ketua Laboratorium Penelitian Konversi Energi Elektrik (LPKEE) ITB
Bapak Waluyo Nugroho : Komisaris PLN Batam
Bapak Arya Rezavidi : Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi BPPT

Communication
Bapak Agung Harsoyo : Dosen Elektro ITB, Ketua Laboratorium Sistem Kendali dan Komputer (LSKK) ITB
Bapak Iwan Krisnadi : Anggota BRTI
Bapak Herdy Harman : Vice President Regulatory Management PT. Telekomunikasi Indonesia

Electronics Entertainment for Cultural Development
Bapak Trio Adiono : Dosen Elektro ITB, Ketua Laboratorium IC Design ITB
Bapak Son Kuswandi : Dosen Elektro ITS, Kepala Intelligent Control and Robotics Lab, ITS
Bapak Andriyanto : Divisi Pengembangan PT. LEN Industri

Peserta :
Tahap Pendaftaran (penyerahan Abstrak) ditutup dengan pendaftar mencapai 84 tim dari seluruh universitas maupun Institut di Indonesia.

Tahap Lomba :
Tahap Penjurian Paper telah selesai dilaksanakan dengan menyisakan 5 tim untuk masing-masing kategori. Selanjutnya akan dilaksanakan Penjurian Akhir pada tanggal 14 – 15 Desember 2009 untuk menentukan Juara dari Electrical Engineering Awards 2009.

info mengenai finalis : www.eee2009. com

5 dari 15 Finalis berasal dari ITB (lomba skala nasional)

Waktu pelaksanaan rangkaian acara Electrical Engineering Events 2009:
• Seminar “Perkembangan dan Masa Depan Teknologi di Indonesia”
Sabtu, 12 Desember 2009
• Penjurian Akhir Electrical Engineering Awards 2009
Senin, 14 Desember 2009 – Selasa, 15 Desember 2009
• Electrical Engineering Expo
Rabu, 16 Desember 2009 – Kamis, 17 Desember 2009
• Malam Penganugrahan Electrical Engineering Awards 2009
Kamis, 17 Desember 2009

‘Dari mimpi, dengan karya, untuk Bangsa’

www.eee2009. com

Kenangan Pemilu

Pemilu memasuki masa tenang, semua media kampanye dibersihkan, sebagian dibawa pulang untuk menjadi kenangan..
Terbayang kembali semua proses Pemilu yang menantang, penuh rasa, emosi, perang logika, melelahkan, namun mengasyikkan. ENAM HEARING mendewasakan banyak orang, bukan hanya cakahim.
Pemilu ini sarana pencerdasan, sarana untuk menggali ide, menguji kapabilitas. Salah satu bentuk pencerdasan yang dilakukan adalah kampanye. Beberapa kali kami berkeliling kampus menebarkan kampanye, menjadi pengalaman yang menarik.

 

Malem-malem kampanye, mirji ama chrisna harmonis banget

 

Wah pokoknya pemilu ini sangat berwarna (begitu bermacam-macam warnanya), terima kasih untuk semua tim promotor, kita ramaikan terus blog ini! vivato HME!!

(jam 3 pagi setelah hearing)

 

Pemilu Cair Kembali

Pemilu Strikes Back !!

Pemilu HME yang sempat di-freeze dilanjutkan!!

Maka Ichsan beserta tim promotor kembali bergerak untuk mengajak massa HME untuk bergerak bersama menjadi solusi bagi lingkungan.

Hearing berikutnya :

Senin 23 November 2009

pk.18.00 @ HME

Tema : HME – ITB -INDONESIA

Be There!! Jadilah pemilih yang cerdas!!

Ditulis oleh Ichsan Mulia Permata dengan dirinya sebagai orang ketiga

Ichsan Mulia Permata lahir pada tanggal 31 Oktober 1989 di kota yang asri, kota Bandung. Ia lahir dari keluarga yang sederhana, dari pasangan Suherman dan Sri Sumiarsih. Ia adalah anak ke-2 dari dua bersaudara, kakanya adalah Afsari Mutiara Maulida Putri, sekarang menjadi mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, aktivis Korps Protokoler Mahasiswa.

Ichsan tumbuh menjadi anak dengan rasa ingin tahu yang sangat besar. Hal ini ditunjukkan oleh sifatnya sewaktu masih kecil, yang selalu membongkar mainan yang ia miliki walaupun ia tidak dapat memasangnya kembali.

Ichsan dibesarkan dengan di lingkungan keagamaan yang baik. Ia selalu dibimbing oleh ibunya untuk belajar membaca Al-Qur’an sejak kecil. Ia pun sempat menjadi siswa TPA AlQur’an, di jalan Cipaganti. Lalu ia pindah ke TK Ade Irma Suryani (Taman Lalu Lintas).

Jiwa kepemimpinan Ichsan dipupuk sejak dini. Ia menjadi Ketua Murid kelas satu SD Banjarsari I. Hal ini memiliki dampak yang besar bagi anak kelas satu SD, yaitu memupuk keberanian berbicara di depan teman-temannya. Hal ini terus berlanjut, sehingga selama enam tahun di SD, ia selalu menjadi KM.

Ichsan pun memiliki kemampuan akademis yang menonjol. Saat kelas empat SD, ia diterima di kelas Unggulan, dan selama enam tahun, ia selalu menempati peringkat pertama.

Keberanian dan sportifitas Ichsan dibangun sejak SD pula, ia aktif mengikuti lomba-lomba, dari lomba akademis hingga kesenian. Ichsan sempat memenangkan lomba pupuh dan puisi se-Kecamatan. Ia pun menjadi juara pertama Lomba Karya Daur Ulang se-Bandung. Ichsan pun turut mengharumkan nama SDN Banjarsari dengan menjadi pelajar teladan sekecamatan, lalu menjadi pelajar teladan se-Bandung tingkat SD. Pada saat lulus SD, Ichsan menjadi peraih NEM tertinggi se-SDN Banjarsari.

Ichsan diterima di sekolah terfavorit Bandung, SLTPN 5 Bandung. Ia tetap mempertahankan kemampuan akademisnya. Ia pun menjadi Bendahara OSIS saat kelas dua. Ichsan melanjutkan pendidikannya di SMAN 3 Bandung, sekolah favorit di Indonesia. Di sana, kemampuannya terus ditingkatkan, baik dari sisi akademis maupun non-akademis. Pendewasaan Ichsan dimulai saat ia mengikuti Latihan Kepemimpinan Siswa (LKS). Sejak saat itu, ia mulai memikirkan tentang hakikat hidup. Selain sebagai Ketua Murid, Ichsan aktif di ekstrakurikuler Dewan Keluarga Masjid, Musik Klasik 3, Paskibra, dan Hikmatul Iman (ekstrakurikuler tenaga dalam).

Saat SMA, Ichsan aktif mengikuti pelatihan dan seminar. Ia mengikuti Training of Trainer di Lembang, yang diselenggarakan oleh Yayasan Bahtera. Di sana, ia pun mendapatkan penjelasan mengenai seluk-beluk NARKOBA, juga kesaksian pecandu. Ichsan juga diikutsertakan oleh pihak sekolah mengikuti training ESQ 165. Ichsan sempat aktif menjadi pementor anakanak yatim di masjid Al-Manar.

Ichsan pun mengembangkan softskill dalam berorganisasi. Ia menjadi Ketua ‘Artiloe’ (pameran SMAN 3 Bandung) dan menjadi Ketua OSIS SMAN 3 Bandung. Saat menjadi Ketua OSIS itulah Ichsan mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran tentang kehidupan sosial. Ia pun menjadi Ketua FOKUS (Forum Ketua OSIS Bandung), sehingga Ia mendapatkan banyak pengalaman dan realita yang memberi inspirasi dalam kehidupannya. Ia menyadari bahwa ia memiliki tanggung jawab besar terhadap bangsanya.

Dengan melihat realita bangsa, Ichsan memiliki cita-cita untuk mengangkat bangsa ini dari keterpurukan. Hal yang ia soroti adalah ketergantungan terhadap minyak bumi. Ia memiliki cita-cita untuk melepaskan Indonesia dari ketergantungan terhadap perusahaan minyak asing. Oleh karena itu, ia memilih teknik Elektro sebagai jenjang pendidikan tingginya. Mengapa? Dengan skill elektro, ia memiliki cita-cita untuk membuat alat transportasi listrik yang murah, dan mengembangkan sumber energi listrik yang tidak tergantung pada minyak bumi.

Ichsan diterima di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB, sesuai dengan cita-citanya akhirnya ia diterima di Teknik Elektro. Selama di ITB, ia tetap menjaga kemampuan akademis dan softskill -nya. IPK semester 3 mencapai 3.61 (skala 4.00), dan ia aktif di Himpunan Mahasiswa Elektroteknik (HME) sebagai wakil angkatan di Majelis Perwakilan Anggota. Ichsan juga dikirim sebagai perwakilan HME untuk mengikuti Diklat Aktivis Terpusat yang diselenggarakan oleh Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB. Dari diklat tersebut, Ichsan mendapatkan banyak relasi dan wawasan kebangsaan yang luas. Ichsan pun aktif berkesenian di Lingkung Seni Sunda (LSS ITB) karena seni selalu memberi warna lebih dalam kehidupan.

Kondisi ekonomi keluarga Ichsan dapat disebut pas-pasan. Sejak krisis moneter 1998, keluarganya mengalami kesulitan dalam membiayai pendidikan. Namun, keluarganya sering diberi kemudahan pula, seperti saat SMA, Ichsan dan kakaknya diberi beasiswa penuh. Hal ini sangat membantu karena kedua orang tuanya harus memenuhi biaya kontrak rumah. Namun daripada mengontrak terus-menerus, saat ini, kedua orang tuanya semakin mengencangkan ikat pinggang karena berusaha membangun rumah sederhana. Ichsan sekeluarga menempati rumah tersebut walaupun belum sepenuhnya selesai. Dalam kondisi tersebut, Ichsan mulai belajar mandiri. Ia mengajar les privat SMP dan SMA. Selain membantu memenuhi kebutuhannya, Ichsan mendapat banyak pelajaran mengenai keterampilan mengajar dan psikologi anak. Honor mengajar ia gunakan untuk membiayai lomba robot yang sedang ia ikuti sekarang.

Ichsan masih selalu menjaga citacitanya untuk membuat alat transportasi listrik yang murah, dan mengembangkan sumber energi listrik yang tidak tergantung pada minyak bumi. Untuk mencapai cita-citanya, ia aktif Ia berencana untuk melanjutkan studi S2 di Jerman atau Jepang. Setelah itu, ia berencana untuk bekerja di perusaahan dengan sistem kerja yang baik, sambil melakukan riset mengenai sumber energi non-konvensional. Lalu, ia berencana membuat perusahaan dalam bidang alat transportasi listrik sebagai perwujudan cita-citanya. Ichsan ingin hidupnya bermanfaat bagi manusia, ia ikhlaskan cita-citanya itu karena Allah semata. Ia selalu ingin berada di sisi-Nya di akhirat nanti.

PESAN PENDAHULU

elektron1

Agar lebih kita tingkatkan lagi pengetahuan dan keterampilan kita, dengan tidak hanya ‘mandah meminta dan menerima saja’ akan kemampuan yang seharusnya kita raih. Jadi dengan niat saling memberi dan menerima pengetahuan dari media yang tercinta ini, kita bersama menapak ke depan demi kemajuan generasi muda dan bangsa kita

(Pesan A. Wahyu Sentosa, Pimred ELEKTRON dalam Lustrum I ELEKTRON-1981.)

aku dan hme

Sejujurnya saat akan masuk ke HME dulu saya belum tahu tujuan spesifik saya di sini. Saya hanya percaya bahwa HME dapat, entah bagaimana caranya, membantu saya mengembangkan potensi diri. Oleh karena itu, seberat apapun, selelah apapun, saya selalu berusaha sebaik mungkin untuk mengikuti rangkaian kaderisasinya, MBC.

Dan pada akhirnya saya menyadari, bahwa tujuan egois saya—mengembangkan potensi diri—memang dapat saya capai di HME. Sungguh, hanya dengan bermodal kemauan tersebut, setiap orang bisa berkembang di sini; segala kesempatan terbuka untuk itu. Tapi kemudian saya sadar, tujuan itu terlalu kecil untuk orang-orang yang sudah dikaruniai begitu besar kemampuan. Tidak banyak orang yang dikaruniai anugerah intelektual seperti kami, anak-anak HME, dan memiliki kesempatan memanfaatkannya dalam statusnya sebagai “mahasiswa”.

Masih ingat pemerintahan terdahulu—soekarno dan soeharto—yang tumbang karena kekuatan mahasiswa? Juga peristiwa pendudukan kampus oleh militer pada tahun 1978? Semua itu tidak membuktikan hal selain bahwa mahasiswa memiliki kekuatan yang besar. Pendudukan kampus di mata saya merupakan wujud ketakutan “orang atas” atas potensi yang dimiliki mahasiswa untuk melakukan apa yang mereka takutkan.

Saya tidak sependapat dengan anggapan bahwa mahasiswa kini lebih lemah. Kita MASIH punya kekuatan tersebut. Kita MASIH dapat menjadi tonggak penggerak bangsa. Masalahnya hanyalah “kemana arahnya?”. Sungguh, tanpa pergerakan seluruh mahasiswa yang satu arah, gerak kita sia-sia. Masih ingat kan, fisika SMP tentang cara membuat magnet? Besi harus digerakkan satu arah agar menghasilkan magnet karena kutub-kutubnya hanya dapat tercipta bila muatannya satu arah, sehingga tidak saling meniadakan. Sama halnya dengan pergerakan kita, jika kita bergerak sendiri-sendiri, efeknya tidak akan terasa. Yang dibutuhkan adalah kesediaan kita untuk menyingkirkan sejenak ego-ego kita dan mulai bergerak bersama untuk hal yang lebih besar. Kolaborasi dan sinergisasi seluruh elemen HME mutlak kita butuhkan. Dan cara yang paling mungkin kita lakukan pertama kalinya adalah dengan meningkatkan rasa kekeluargaan dalam solidaritas yang dimulai dengan keterbukaan komunikasi antar anggota. Mengapa? Karena di sini kita berhimpun; kita beriteraksi di dalam himpunan.

Mengenai pergerakan mahasiswa, bukan, saya bukannya ingin semua anggota HME menjadi aktivis atau apa. Saya hanya berharap HME dapat menjadi bagian dari gerakan mahasiswa yang satu arah tersebut. Bukan dengan demonstrasi mungkin—walaupun cara tersebut tidak dipersalahkan—namun sudah saatnya kita konkrit, kita pikirkan solusi permasalahan tersebut. Jaman sudah berbeda, di masa ini, mahasiswa adalah solusi, bukannya hanya bisa mengkritik apalagi menjadi masalah. Ini masa dimana kita mulai melihat sekitar; peduli dengan apa yang terjadi di luar sana karena mungkin, dunia memang tak hanya sebesar kita. Untuk ini, langkah  Internalisasi isu-isu sosial sebagai langkah peningkatan kepekaan anggota dan aktivasi gerakan pengabdian masyarakat yang inovatif dan konkret diperlukan. Kepekaan dan kesadaran tersebut dapat secara real mulai dilakukan melalui skala yang kecil, yaitu dengan adanya integrasi program-program HME sebagai bentuk peningkatan rasa kepemilikan anggota terhadap program.

Tapi hal itu tidaklah cukup, kekuatan mahasiswa bukan hanya sekedar HME; kita berada dalam sistem yang lebih besar. Kita bersama seluruh mahasiswa lain sama-sama merupakan solusi dan kita tidak dapat bergerak sendiri. Sehebat apapun kita sendirian, akan lebih hebat jika kita berkolaborasi. Mungkin bagi masyarakat kita sudah hebat dengan listrik yang kita alirkan di desa-desanya, tapi tidakkah akan lebih bermanfaat jika bekerja sama dengan sipil, misalnya, untuk sekaligus membangun infrastruktur desa tersebut? Atau turut mengajak biologi untuk turut mengembangkan pertanian di sana? Untuk itulah peningkatan kolaborasi HME dengan lembaga-lembaga di kemahasiswaan terpusat diperlukan. Dan untuk mendukung itu semua, bargaining position dan hubungan baik dengan pihak eksternal akan lebih baik bila ditingkatkan.

yang terpenting dari semuanya, marilah kita konkrit. bagi saya, tak perlulah menggantungkan cita-cita setinggi bintang, gantung saja beberapa meter di atas limit kita, dan lakukan hal konkrit yang terbaik untuk menggapainya.

Cmiiw,

Sabrina Rahmawati

ET’07

Mikrogrid: Wacana Solusi Daerah Mandiri Energi

Arwindra Rizqiawan

Ekonomi, teknologi, dan lingkungan telah mengubah pola pembangkitan dan penyaluran energi listrik. Pola pembangkitan energi listrik sudah mulai berubah dari pola tersentralisasi menjadi pola yang lebih kecil, pola terdistribusi, karena adanya rugi-rugi secara ekonomi yang cukup besar.

Microgrid merupakan salah satu contoh pola pembangkitan terdistribusi yang bisa melingkupi berbagai macam sumber energi, mulai dari sumber fosil, maupun sumber energi terbarukan seperti angin, surya, biogas, dsb. Secara definisi microgrid merupakan system interkoneksi beban dan berbagai macam sumber energi yang terdistribusi, sebagai satu system microgrid dapat beroperasi parallel dengan system interkoneksi yang lebih besar atau beroperasi mandiri. Microgrid merupakan bagian dari suatu system utama yang memiliki keunggulan pengaturan terhadap dirinya sendiri, sehingga apabila terjadi gangguan pada system utama microgrid masih dapat menjalankan fungsi pembangkitan dan penyaluran sendiri untuk melayani bebannya.

Akibat adanya keterbatasan secara ekonomi maupun kondisi geografi, sistem penyaluran listrik tersentralisasi belum bisa melingkupi semua daerah yang membutuhkan. Dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan local yang tersedia di masing-masing daerah, microgrid dapat dijadikan suatu solusi untuk mewujudkan daerah mandiri energi bagi daerah yang tidak terjangkau listrik. Isu utama dari struktur microgrid adalah antarmuka, pengaturan dan proteksi untuk masing-masing sumber energi yang mungkin ada di local, serta pengaturan tegangan, aliran daya, proteksi, stabilitas operasi dan sebagainya. Karakteristik yang berbeda-beda dari masing-masing sumber energi terbarukan dan juga kondisi potensi sumber energi yang bisa dimanfaatkan dari daerah juga menjadi tantangan untuk mewujudkan ide ini.

Kondisi geografi kepulauan di Indonesia mengemukakan fakta bahwa belum semua daerah di Indonesia mendapatkan fasilitas listrik yang disediakan pemerintah. Di sisi lain sumber daya alam di Indonesia saya rasa masih cukup melimpah untuk dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan. Namun sumber energi tersebut pada umumnya melimpah di daerah-daerah yang cukup jauh dari pusat-pusat keramaian. Disinilah diharapkan konsep mikrogrid ini dapat diterapkan sehingga masing-masing daerah dapat membuat suatu interkoneksi kecil sendiri dengan memanfaatkan potensi alam lokal yang ada di daerah itu sendiri.

Di dunia mikrogrid belum banyak dikembangkan secara komersil. Menjadi tantangan buat kita semua untuk bisa menerapkan mikrogrid di Indonesia untuk mewujudkan konsep daerah mandiri energi.

Ref.
Lasseter, R.H, Piagi, P., Microgrid: A Conceptual Solution, Proceeding of PESC’04 Aachen
www.flowtrack.com.au
www.leonardo-energy.org
www.mgx.com

Diambil dari : http://konversi.wordpress.com/2009/03/04/mikrogrid-wacana-solusi-daerah-mandiri-energi/

Solusi yang cocok diterapkan di Indonesia. Konsep lebih sederhananya sudah direncanakan akan diterapkan di PALAPA. Bukan hal yang tidak mungkin bagi kita kan?

Sedikitnya 7.500 desa di seluruh wilayah Indonesia belum teraliri listrik. Sebagian besar wilayah tersebut termasuk dalam kawasan daerah tertinggal yang berlokasi di pulau-pulau terpencil dan pegunungan. “Dalam 10 hingga 15 tahun ke depan belum akan teraliri listrik oleh PLN,” kata Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Ir. H. Muhammad Lukman Edy, M.Si. Pernyataan itu disampaikan Menteri PDT dalam acara penandatanganan nota kesepahaman kerja sama antara UGM dan Kementerian Negara PDT RI di Ruang Multimedia, Kantor Pusat UGM, Kamis (16/7).

Dikatakan Lukman, dalam mengatasi permasalahan tersebut, pihaknya melibatkan perguruan tinggi guna untuk serta membantu mengembangkan teknologi solar sel, mikro hidro, dan energi alternatif lainnya. Jumlah daerah tertinggal sebelumnya mencapai 199 kabupaten dan hampir 60 persennya ada di kawasan timur Indonesia. Untuk tahun 2009 ini, setidaknya 31 kabupaten tidak lagi termasuk dalam kategori daerah tertinggal.

Rektor UGM, Prof. Ir. Sudjarwadi M.Eng, Ph.D., mengatakan kerja sama ini akan sangat membantu terciptanya ide dan karya baru yang bermanfaat dalam membangun kawasan daerah tertinggal. “Banyak hal yang bisa dilakukan Kementerian PDT dan UGM. Apalagi UGM didirikan dan diselenggarakan berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan keilmuan,” katanya.

Ditambahkan Rektor, Indonesia merupakan negara yang dikaruniai sumber daya alam cukup melimpah. Dengan keilmuan yang dimiliki seluruh warga UGM bersama warga masyarakat dapat mengabdi kepada kepentingan dan kemakmuran bangsa. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

Rilis by: www.ugm.ac.id

Rektorat UGM seserius itu lho

Aku dan HME

Ass. Wr. Wb.

Sebelumnya perkenalkan, nama saya Mita, EL 07. Pada kesempatan ini saya akan mengungkapkan pengalaman saya di HME selama setahun lebih saya berada di dalamnya. Saya sendiri termasuk orang yang tidak terlalu sering terlihat di himpunan seperti kebanyakn teman-teman saya lainnya. Tetapi walapun begitu, saya memiliki beberapa pengalaman dalam proker HME. Mungkin pengalaman tersebut juga masih sedikit dibandingkan teman-teman saya yang lainnya. Bagaimana pun, saya tetap merupakan anggota HME dan masih peduli akan bagaimana masa depan HME selanjutnya.

HME adalah suatu wadah di mana seluruh mahasiswa elektroteknik dapat berkarya. Berkarya dapat diimplementasikan dalam berbagai bentuk dan tidak selalu harus dalam wujud yang nyata. Bisa saja dalam wujud suatu proses pembelajaran di mana pada kemudian hari akan bermanfaat untuk menghasilkan sebuah karya-karya besar. Bisa juga dalam bentuk-bentuk lainnya.

HME merupakan suatu himpunan yang anggotanya sangat majemuk, sehingga setiap anggota memiliki keberagaman. Hal itulah yang bisa menjadi kelebihan maupun kekurangan dari HME. Kelebihannya adalah banyak ide-ide brilian yang muncul dari tiap anggota yang jika disatukan akan membentuk sebuah pemikiran yang komplit dan terpadu. Namun kekurangannya adalah mungkin agak susah disatukan. Mungkin banyak kelebihan dan kekurangan lainnya, namun sisi itulah yang menurut saya paling mencolok. Menurut saya “Kolaborasi dan sinergisasi seluruh elemen HME dengan peningkatan rasa kekeluargaan dalam solidaritas yang dimulai dengan keterbukaan komunikasi antar anggota”harus ditekankan agar dalam perbedaan tersebut muncul sebuah kolaborasi dan sinergisasi yaitu menyamakan suatu tujuan yang dicapai agar timbul sebuah kesatuan. Hal ini dapat diwujudkan dengan adanya komunikasi antar anggota, sering mengadakan acara keakraban dan kumpul bersama. Hal-hal tersebut selain menimbulkan semangat dalam diri setiap anggota juga akan menimbulkan rasa keluargaan dan solidaritas yang akan menyatukan anggota HME.

Selama satu tahun lebih di HME saya merasa bahwa HME memiliki program kerja-program kerja yang sangat baik dan reasonable mengapa harus dijalankan program-program tersebut. Panitia dari setiap program kerja tersebut pun selalu focus dan bekerja dengan maksimal. Namun karena struktur yang demikian, program kerja HME tampak berjalan sendiri-sendiri dan focus di dalam, padahal mungkin sebenarnya juga ke luar.

Saya memandang suatu ide yang bagus apabila HME bisa berkolaborasi di dalam dan ke luar. Istilahnya seperti “mensana in corpore sano”, kuat di luar dan kuat di dalam. Sehingga akan menimbulkan pembenahan di dalam dan ke luar. Maka dari itu “Integrasi program-program HME sebagai bentuk peningkatan rasa kepemilikan anggota terhadap program” menjadi solusi bagi permasalahan agar program kerja HME tidak tampak berjalan sendiri-sendiri, namun menjadi sebuah ajang keterlibatan seluruh anggota HME agar mempererat rasa kepemilikan terhadap HME. Hal inilah yang menjadi salah satu kekuatan HME di dalam. Lalu “Peningkatan kolaborasi HME dengan lembaga-lembaga di kemahasiswaan terpusat” dan “Peningkatan bargaining position dan hubungan baik dengan pihak eksternal” menjadi solusi agar HME semakin kuat di luar. Hal ini menjadi sangat bermanfaat apabila HME mengadakan kerjasama dengan pihak luar.

Berikutnya elemen masyarakat adalah elemen yang akan sangat menentukan arah gerak HME selanjutnya. Isu-isu yang ada pada masyarakat menjadi sebuah permasalahan yang harus dicari solusinya. Mengingat anggota-anggota HME merupakan bagian dari elemen masyarakat apabila sudah tidak berada di dalam lingkup HME lagi, merupakan sebuah keharusan bagi kita untuk turut menyelesaikan masalah-masalah social yang terjadi pada masyarakat karena bagaimana pun kita juga harus kembali pada masyarakat. Masyrakat member kontribusi kepada kita (pajak untuk pendidikan, dan lain-lain) sehingga kita juga harus memberikan timbale balik berupa kontribusi kepada masyarakat juga. Sehingga “Internalisasi isu-isu sosial sebagai langkah peningkatan kepekaan anggota dan aktivasi gerakan pengabdian masyarakat yang inovatif dan konkret” merupakan sebuah gerakan kontribusi yang akan sangat berguna bagi masyarakat. Semakin banyak yang kita beri pada mereka akan semakin banyak juga hal-hal berharga yang kita dapat dari masyarakat.

Terakhir apabila semua aspek pembenahan telah tercapai, maka untuk mempertahankan prestasi-prestasi  yang telah diraih HME, diperlukan penurunan nilai yang berkesinambungan kepada generasi-generasi baru HME agar generasi-generasi baru tersebut dapat terus memberikan yang terbaik dan yang lebih baik untuk HME. “Perancangan pola pendidikan terintregrasi yang sistemik” adalah suatu hal yang harus dilakukan secara kontinu agar penurunan nilai-nilai keberhasilan tersebut dapat berhasil dilaksanakan.

Mungkin itulah sedikit gambaran singkat dari saya. Mohon maaf apabila banyak kekurangan dan kesalahannya.

Wass. Wr. Wb.

Hearing kedua CAKAHIM HME ITB 2009 akan diadakan pada :

Hari             : Senin

Tanggal      : 2 November 2009

Pukul          : 17.00 s.d. selesai (sesuai kesepakatan)

Tempat      : CC Barat Ruang 32

Tema          :  Aku dan HME

Kenali keempat calon lebih dalam..

Ok Champ!!

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.